Korea Selatan telah menjadi case study global dalam memanfaatkan budaya dan kreativitas sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Melalui strategi terencana, pemerintahnya tidak hanya mengekspor K-Pop dan drama (Hallyu), tetapi juga secara aktif mendorong dan mendanai perekonomian kreatif lokal di seluruh bidang, dari webtoons hingga gaming.
Strategi ini berakar pada investasi besar-besaran di infrastruktur digital, inkubator bisnis, dan skema pendanaan yang secara khusus ditujukan untuk startup di industri konten. Pemerintah mengakui bahwa produk budaya adalah aset ekspor yang menghasilkan pendapatan signifikan dan meningkatkan soft power negara.
Berbeda dengan subsidi langsung, pendekatan Korea Selatan lebih berfokus pada penciptaan ekosistem yang kondusif. Ini termasuk undang-undang hak cipta yang ketat untuk melindungi kekayaan intelektual seniman, kemitraan antara lembaga pendidikan dan industri, serta promosi produk lokal di pasar internasional.
Keberhasilan ini juga didukung oleh adaptasi yang cepat terhadap platform digital baru. Misalnya, industri webtoon (komik digital) Korea Selatan telah menjadi fenomena global, menciptakan siklus di mana webtoon diadaptasi menjadi drama, lalu drama mendorong popularitas webtoon aslinya.
Secara keseluruhan, strategi Korea Selatan menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak tumbuh secara organik, melainkan melalui kebijakan yang terencana dan didukung secara finansial. Kisah sukses ini menjadi inspirasi bagi banyak negara Asia yang ingin mengubah aset budaya mereka menjadi sumber pendapatan global.

