Genre musik Lo-Fi (Low-Fidelity) telah menjadi soundtrack wajib dan fenomena budaya di kalangan mahasiswa Asia, terutama saat mereka belajar, bekerja, atau bersantai. Musik yang dicirikan oleh ritme santai, tempo lambat, dan efek suara vintage ini menawarkan latar belakang yang sempurna untuk konsentrasi.
Kunci popularitasnya adalah kemampuannya untuk menciptakan “suara putih” yang menenangkan. Musik Lo-Fi cukup menarik untuk menghalangi gangguan eksternal, tetapi tidak memiliki lirik atau perubahan melodi yang dramatis yang dapat mengalihkan perhatian dari tugas-tugas kognitif yang intensif.
Di Asia, di mana budaya belajar sangat kompetitif dan jam belajar seringkali panjang, musik Lo-Fi memberikan ketenangan psikologis dan membantu dalam mengelola stres. Saluran YouTube yang menyiarkan live stream Lo-Fi bertema studio anime atau kafe Asia telah mengumpulkan jutaan viewer.
Genre ini juga mempromosikan citra gaya hidup yang tenang dan reflektif, yang sangat kontras dengan hiruk pikuk kehidupan kota dan tuntutan akademik. Ini menjadi ekspresi self-care bagi generasi yang terus-menerus di bawah tekanan.
Musik Lo-Fi telah melampaui sekadar genre; ia telah menjadi alat produktivitas dan relaksasi yang esensial bagi mahasiswa Asia. Keberhasilannya menunjukkan bahwa di era digital yang bising, ada permintaan besar untuk musik yang tenang dan fokus.

