Ironi banget gak sih? Kita ini negara Muslim terbesar di dunia. Logikanya, kita ‘Raja’-nya produk Halal (makanan, fashion, kosmetik). Tapi faktanya? Kita malah ‘Raja Impor’ produk halal dari Brazil, Thailand, dan Korea! Gimana ceritanya?
Laporan global udah jelas: pasar ekonomi Islam ini nilainya ribuan triliun! Demand-nya gak cuma dari kita, tapi dari seluruh dunia yang nyari produk ‘bersih’ dan ‘etis’. Tapi kita ‘tidur’!
Kenapa kita ‘dilewatkan’? Kita sibuk jadi ‘tukang stempel’ (sertifikasi) doang, tapi lupa jadi ‘produsen’-nya. UMKM kita gak di-support buat scale-up ekspor. Brand kosmetik/makanan Korea lebih gercep (gerak cepat) sertifikasi halal daripada brand lokal upgrade pabrik.
Ini ‘cuan’ yang literally di depan mata. Ini bukan cuma soal ‘agama’, ini soal bisnis murni. Brand lokal dan pemerintah harus gaspol. Berhenti jadi ‘pasar’, saatnya jadi ‘pemain’.
Intisari:
- Indonesia (populasi Muslim terbesar) ironisnya adalah importir bersih produk halal.
- Pasar ekonomi halal global bernilai ribuan triliun, tapi RI ‘tertidur’.
- Kita (RI) fokus jadi ‘regulator’ (sertifikasi), tapi gagal jadi ‘produsen’ global.
- Ini adalah ‘peluang emas’ yang terlewatkan jika UMKM dan industri lokal tidak scale-up.

